Tuesday, September 28, 2021
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Kaki Bionik Bantu Aktivitas Penyandang Disabilitas

Must Read

Alycia Putri
Currently working as Corporate Communication Staff at SiCepat Ekspres Indonesia. As a junior Content Writer, I still learn a lot about how to convey messages through writing to be easily understood by readers and still find out about writing and various vocabulary so the articles are not monotonous.
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Teknologi tidak hanya membantu pekerjaan masyarakat saja, kini teknologi dapat dimanfaatkan untuk melengkapi anggota tubuh seseorang, seperti kaki. Melansir cnn.com, Hugh Herr yang dahulunya adalah seorang pendaki gunung, mengalami kecelakaan pada tahun 1982, terpaksa harus mengamputasi kedua kakinya. Bersama dengan timnya dari Massachusetts Institute of Technology mengembangkan kaki bionik yang bisa berfungsi senatural mungkin. Hal itu ia lakukan agar mengeliminasi kekurangan dan ketidakmampuan fisiknya.

Sebagian besar kaki bionik memiliki kecanggihan, seperti yang dibuat oleh Herr. Kaki bionik buatan Herr dapat digunakan untuk mendaki gunung karena dilas menggunakan crampon atau pelat logam khusus untuk panjat tebing. Protesis bionik buatannya bahkan lebih panjang daripada kaki normal sehingga bisa merenggang lebih lebar. 

Photo by Lokesh Bhaskar “TedX – Bionics Lets Dance – Hugh Herr” (youtube.com)

Seperti pada film dengan genre fiksi ilmiah atau science fiction (sci-fi), Herr melihat perkembangan teknologi yang semakin besar, yaitu untuk penambahan atau pergantian anggota tubuh manusia. Salah satunya, pada tahun 1974, sebuah serial ‘The Six Million Dollar Man’ tentang astronot bernama Steve Austin yang beberapa bagian tubuhnya diganti dengan perangkat buatan.

Perangkat-perangkat buatan tersebut adalah bionik yang dipasang setelah sang astronot mengalami cedera parah akibat ledakan pesawat yang dibawa olehnya. Kini teknologi bionik tersebut bukan lagi sekadar cerita fiksi belaka. 

Photo by TED 2014 Conference, James Duncan Davidson (time.com)

Kasus berikutnya yang dilansir dari liputan6.com, yaitu John Simpson, pria berusia 60 tahun yang menderita polio sejak usia 2 tahun hingga akhirnya ia harus menggunakan kaki berteknologi rendah. Kini ia menggunakan penopang berbahan karbon yang dilengkapi komputer berteknologi Bluetooth dan baterai isi ulang sehingga ia pun bebas bergerak. Begitu pula dengan Adrianne Haslet-Davis, seorang penari balet profesional yang kehilangan kaki kiri bagian bawah karena ledakan bom Boston. Kini, ia bisa menari lagi dengan kaki bionik buatan MIT yang bergerak sesuai perintah dari saraf tulang belakang. 

spot_imgspot_imgspot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Artikel Terbaru

Cara Meditasi Menenangkan Pikiran Untuk Pemula

Meditasi bisa dipelajari oleh setiap orang. Meditasi dilakukan untuk menenangkan pikiran dan merupakan kegiatan untuk melatih fokus pikiran agar...

Pengaruh Hipertensi Terhadap Vaksin Covid-19

Hipertensi menjadi salah satu kondisi yang harus diperhatikan oleh seseorang yang hendak melakukan vaksinasi Covid-19. Bagi pengidap penyakit hipertensi,...

Hati-hati Menggunakan Sepatu Hak Tinggi

Sepatu hak tinggi atau high heels memiliki beragam model yang menarik. Sepatu hak tinggi dipercaya dapat memberikan kesan yang...

Populer Artikel