Wednesday, September 22, 2021
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Pengobatan dan Penanganan Hipospadia

Must Read

Alycia Putri
Currently working as Corporate Communication Staff at SiCepat Ekspres Indonesia. As a junior Content Writer, I still learn a lot about how to convey messages through writing to be easily understood by readers and still find out about writing and various vocabulary so the articles are not monotonous.
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Hipospadia bisa ditangani melalui tindakan pembedahan atau penatalaksanaan hipospadia. Tindakan pembedahan pada pasien ditujukan untuk mengatasi masalah yang berhubungan dengan pancaran urin, alasan kosmetik, dan memperbaiki fungsi seksual di kemudian hari. Pasien yang didiagnosa hipospadia harus segera dirujuk untuk evaluasi lanjutan pada minggu pertama. 

Pembedahan hipospadia dapat dikerjakan ketika anak berusia 6-18 bulan. Diharapkan, pembedahan selesai sebelum ia memasuki usia sekolah. Pembedahan yang terlambat atau dilakukan pada usia pubertas akan berpengaruh kepada stres psikologis atau masalah perilaku. Melansir alomedika.com, beberapa penelitian melaporkan, tingkat komplikasi meningkat pada pasien dewasa, hampir 50% pasien post pubertas mengalami komplikasi fistula urethrocutaneous

Photo by Kelly Sikkema (Unsplash.com)

Pembedahan 

Kondisi hipospadia membuat uretra terletak di bagian bawah penis, sehingga penderita kesulitan buang air kecil atau berhubungan seksual ketika dewasa kelak. Pembedahan hipospadia bertujuan untuk memperbaiki uretra sehingga letak meatus eksterna lebih alami di apeks glans penis, menghilangkan korde sehingga penis menjadi lurus, membuat bentuk glans penis menjadi kerucut yang natural, rekonstruksi preputium sehingga mudah ditarik, membuat skrotum tampak normal, dan untuk reproduksi di masa depan. 

Setelah pembedahan 

Setelah pembedahan pasien perlu melakukan beberapa pemeriksaan, seperti berikut:

  1. Tes fluximetri termasuk perhitungan volume miksi, maximum flow, medium flow, dan waktu emisi. 
  2. Evaluasi tekanan detrusorial dan aspek morfologi, serta urodinamik dari uretra yang baru direkonstruksi menggunakan uretrogram dan endoskopi. 
  3. Setelah tiga minggu pembedahan hipospadia, pasien melakukan pemeriksaan flow rate. Jika menunjukkan laju aliran normal, pasien dapat diperiksa kembali setelah tiga bulan dan 12 bulan pasca bedah. Namun, untuk pasien yang menunjukkan stenosis ringan, diindikasikan untuk dilatasi uretra dan pemeriksaan ulang setelah tiga minggu. 
  4. Pemeriksaan di bulan ketiga dilakukan penilaian tentang kurvatura persisten atau masalah lainnya. 
  5. Komplikasi operasi perbaikan hipospadia dapat didiagnosis setelah satu tahun pasca bedah. 
  6. Pemeriksaan jangka panjang setidaknya dilakukan hingga masa pubertas untuk menghindari hypertrophic urethral scarring atau inflamasi kronik yang tidak terdeteksi. 

Baca juga artikel sebelumnya apa itu hipospadia!

spot_imgspot_imgspot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Artikel Terbaru

Indonesia Pasti Bisa Buka Sentra Vaksinasi 2.500 Dosis di Kota Semarang

Gerakan Indonesia Pasti Bisa bersama Dinas Kesehatan Kota Semarang membuka sentra vaksinasi di Mall Tentrem, Semarang pada 20-21 September...

Indonesia Pasti Bisa Salurkan Obat Remdesivir Ke dr. Gunawan

Indonesia Pasti Bisa mendapatkan donasi berupa obat Covid-19, yaitu Remdesivir dari salah satu donatur. Obat Covid-19 Remdesivir ini langsung...

SiCepat Ekspres Raih 2 Penghargaan Dalam Ajang OMNI Brands Award 2021.

SiCepat Ekspres berhasil meraih dua penghargaan sekaligus dalam ajang OMNI Brands Award 2021 yang diselenggarakan oleh Marketeers. SiCepat Ekspres...

Populer Artikel