Sunday, June 26, 2022
25.1 C
Jakarta
More

    BMKG Ungkap Faktor Penyebab Kualitas Udara di Jakarta yang Masuk Kategori Tidak Sehat

    Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memaparkan sejumlah faktor yang mempengaruhi peningkatan konsentrasi PM2.5 udara yang terjadi di Jakarta dalam kurun waktu beberapa hari terakhir.

    Plt. Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Urip Haryoko menjelaskan bahwa pada beberapa hari terakhir PM2.5 mengalami lonjakan peningkatan konsentrasi dan tertinggi berada pada level 148 148 µg/m3. PM2.5 dengan konsentrasi ini dapat dikategorikan kualitas udara Jakarta tidak sehat.

    PM2.5 merupakan salah satu polutan udara dalam wujud partikel dengan ukuran yang sangat kecil, yaitu tidak lebih dari 2,5 µm (mikrometer). Dengan ukurannya yang sangat kecil ini, PM2.5 dapat dengan mudah masuk ke dalam sistem pernapasan, dan dapat menyebabkan gangguan infeksi saluran pernapasan dan gangguan pada paru-paru.

    Tidak hanya itu, PM2.5 ternyata dapat menembus jaringan peredaran darah dan terbawa oleh darah ke seluruh tubuh. Hal ini dapat menyebabkan terjadinya gangguan kardiovaskular seperti penyakit jantung koroner.

    Baca juga: Analisis BMKG Soal Banjir Dan Fenomena La Nina

    Berdasarkan analisis BMKG, konsentrasi PM2.5 di Jakarta disebabkan oleh berbagai sumber emisi baik yang berasal dari sumber lokal, seperti transportasi dan residensial. Ataupun dari sumber regional dari kawasan industri dekat dengan Jakarta.

    Emisi ini dalam kondisi tertentu yang dipengaruhi oleh parameter meteorologi dapat terakumulasi dan menyebabkan terjadinya peningkatan konsentrasi yang terukur pada alat monitoring pengukuran konsentrasi PM2.5.

    Selain itu, proses pergerakan polutan udara seperti PM2.5 dipengaruhi oleh pola angin yang bergerak dari satu lokasi ke lokasi yang lain. Angin yang membawa PM2.5 dari sumber emisi dapat bergerak menuju lokasi lain sehingga menyebabkan terjadinya potensi peningkatan konsentrasi PM2.5.

    Faktor lainnya yang mempengaruhi peningkatan PM2.5 yakni tingginya kelembapan udara relatif menyebabkan peningkatan proses adsorpsi (perubahan wujud dari gas menjadi partikel). Proses ini menyebabkan terjadinya peningkatan konsentrasi PM2.5 yang difasilitasi oleh kadar air di udara.

    Selain itu, kelembapan udara relatif yang tinggi dapat menyebabkan munculnya lapisan inversi yang dekat dengan permukaan. Lapisan inversi merupakan lapisan di udara yang ditandai dengan peningkatan suhu udara yang seiring dengan peningkatan ketinggian lapisan.

    Sementara itu, peningkatan konsentrasi PM2.5 yang berdampak pada penurunan kualitas udara di Jakarta ini memberikan pengaruh negatif pada individu yang memiliki riwayat terhadap gangguan saluran pernapasan dan kardiovaskuler.

    “Oleh karena itu, masyarakat diimbau untuk dapat mengurangi aktivitas di luar ruangan dan menggunakan pelindung diri seperti masker yang sesuai untuk dapat mengurangi tingkat paparan terhadap polutan udara,” katanya.

    Baca juga: Kemenkes Sebut Hepatitis Akut Dapat Menyebar Lewat Udara dan Makanan

    Latest news

    Related news

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here