Wednesday, October 27, 2021
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Deretan Fakta dan Kontroversi Vaksin AstraZeneca

Must Read

Alycia Putri
Currently working as Corporate Communication Staff at SiCepat Ekspres Indonesia. As a junior Content Writer, I still learn a lot about how to convey messages through writing to be easily understood by readers and still find out about writing and various vocabulary so the articles are not monotonous.
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Vaksin AstraZeneca yang berasal dari perusahaan Inggris yang masuk ke Indonesia di tahun 2021 ini memiliki permasalahan serta kontroversi. Peristiwa yang ditimbulkan dari vaksin ini pun beragam, mulai dari efek samping pasca vaksin yang cukup berat hingga isu kehalalannya. 

Melansir cnbcindonesia.com, Presiden Komisi Uni Eropa (UE) Ursula von der Leyen mengeluarkan peringatan keras kepada perusahaan vaksin AstraZeneca untuk menaati kaidah yang ditentukan oleh UE dalam memproduksi vaksin. Bila tidak, maka perusahaan tersebut terancam di embargo. 

Diklaim oleh Perdana Menteri Inggris Boris Johnson, fokus terbaru dari ancaman ini adalah pabrik AstraZeneca di Belanda yang merupakan bagian dari rantai pasokan vaksin untuk memenuhi permintaan pasar Inggris sehingga membuat pasokan di UE menurun. Inggris membalas serangan ini dengan memperingatkan UE agar tidak menghentikan ekspor vaksin AstraZeneca jika blok tersebut tidak menerima pengiriman yang dijanjikan. 

Tidak hanya permasalahan yang muncul dari negara yang membuat vaksin itu sendiri, beberapa fakta serta kontroversi lain menyelimuti vaksin yang diproduksi dengan kerjasama dari University of Oxford ini! Melansir dari cnbcindonesia.com yang mengutip CNBC Internasional, berikut deretan fakta dan kontroversi vaksin AstraZeneca!

Angka keampuhan yang “tidak jelas” untuk lansia

Beberapa negara di Eropa mulai meragukan efikasi vaksin AstraZeneca pada kelompok usia di atas 65 tahun. Rekomendasi pun dikeluarkan oleh komite vaksin Jerman, bahwa vaksin AstraZeneca harus ditawarkan hanya kepada orang yang berusia 18-64 tahun dengan alasan tidak ada data uji coba yang cukup untuk menilai kemanjuran pada orang di atas 65 tahun.

Photo by iStock Photo
spot_imgspot_imgspot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Artikel Terbaru

Cara Pakai Aplikasi PeduliLindungi Tanpa HP Untuk Siswa Dan Lansia

Sekolah pada umumnya melarang siswa untuk membawa ponsel. Namun, saat ini kita sangat membutuhkan ponsel untuk menggunakan aplikasi PeduliLindungi...

Si Kecil Tidur Pulas dengan Kelambu NS Gallery

Tidur pulas pada anak atau bayi merupakan dambaan bagi setiap orang tua. Ketika si kecil tidur pulas, hal ini...

SiCepat Ekspres Menambah Kepemilikan Saham Di DMMX

PT SiCepat Ekspres Indonesia (SiCepat) kembali menambah kepemilikan sahamnya di PT Digital Mediatama Maxima Tbk (DMMX). Dengan ini, maka SiCepat...

Populer Artikel